Makna dan Hakikat Idul Fitri Bagi Umat Islam

Mohon Tunggu Sebentar...
Advertisement
Advertisement
Makna dan Hakikat Idul Fitri - Idul Fitri mempunyai makna yang begitu berarti hingga jauh-jauh hari ia telah menyiapkan diri untuk menyambut kehadirannya, menyiapkan baju untuk bersilaturahmi, melengkapi tempat tinggal supaya ia menjadi indah untuk menyiapkan kedatangan tamu, saudara, teman serta mempersiapkan beragam macam makanan dan minuman. Banyak waktu terkuras untuk mempersiapkan lebaran idul fitri, sehingga dalam menyambut hari raya idul fitri menjadi sebuah kebiasaan dalam satu tahun sekali.

Di hari raya idul fitri hampir semua orang terasa kurang afdhal bila tidak menggunakan sesuatu hal yang baru, walau sebenarnya hari raya idul fitri tidaklah terus-terusan, namun sejatinya ia lebih pada kesucian jiwa serta rasa tulus pada Allah Swt dalam melaksanakan perintahNya. Mempersiapkan beberapa makanan dan minuman di rumah di saat lebaran harus di dasari dengan rasa tulus, karena ibadah, ikhlas karena allah swt.

Namun janganlah memperberat diri dan melampaui batas dan menyimpang dari ajaran agama seperti mengharapkan pujian dari serta sanjungan dari orang lain, unsur riya dengan menunjukan kekayaan, berlaku berlebihan dan sebagainya ini adalah karakter yang tidak baik yang harus kita jauhi.

Idul fitri untuk umat muslim adalah hari bergembira dan kemenangan karena kembali pada kondisi fitrah, yang dalam konteks ini kembali pada asal peristiwa yang suci sehingga mengikuti panduan islam yang benar.


Makna dan Hakikat Idul Fitri

Ramadhan begitu erat hubungannya dengan Idul Fitri karena beribadah puasa adalah satu sistem berkaitan yang melatih manusia mempunyai sifat sabar, menumbuhkan rasa cinta trhadap Allah Swt dan Rasulnya.

Dengan hal tersebut, senantiasa berupaya untuk berakhlak mulia sejak kecil, seperti menghormati orangtua, guru, karena ini adalah sikap berlebihan yang bertentangan dengan nilai-nilai ramadhan, namun banyak lakukan hal-hal baik, seperti lakukan sujud sukur, shalat, mengaji serta lain sebagainya. Mereka jadi hamba yang saleh sebab senantiasa merasakan hadirnya Allah dalam jiwanya selama hidup, selama umur, hingga Allah mencabut nyawa mereka.

Telah jadi kebiasaan yang mengakar di Indonesia jika lebaran Idul Fitri tiba, biasanya orang-orang sama-sama bersilaturahim antar sesama. Kebiasaan seperti ini dinilai suatu hal yang baik serta mulia seperti sabda Nabi saw :

“Barang siapa yang inginkan kelapangan rejeki serta keberkahan umur, jadi sebaiknya dia merajut silaturahim. ”

Silaturahim yaitu kata majemuk yang terambil dari kata shilat serta rahim. Kata shilat bermakna “menyambung”, dan “menghimpun”. Ini bermakna kalau cuma yang putus serta yang terseraklah yang dituju oleh kata shilat. Sedang kata rahim pada awalnya bermakna “kasih sayang” lalu berkembang hingga bermakna juga “peranakan” (kandungan), lantaran anak yang dikandung senantiasa memperoleh curahan kasih sayang.

Dengan hal tersebut, inti dari silaturahim bukanlah sekedar hanya berjabat tangan maupun kunjungan yang berbentuk normalitas, namun jika kunjungan itu bisa membawa nuansa ukhuwah yang mencairkan situasi beku serta menjernihkan apa yang keruh hingga jiwa jadi bening serta suci laksana embun pada pagi hari, seperti sabda Nabi saw :

“Tidak bersilaturahim (namanya) orang yang membalas kunjungan atau pemberian, namun (yang diberi nama bersilaturahim yaitu) yang menyambung apa yang putus. ”

Dalam Idul Fitri, silaturahim serta sama-sama memaafkan begitu disarankan sebagai isyarat peluntur dosa. Tetapi hal semacam itu sejatinya bukan sekedar bisa dikerjakan ketika Idul Fitri namun dapat dikerjakan setiap saat tanpa ada menanti bebrapa event spesifik seperti hari raya idul fitri. Satu diantara langkah bersilaturahim yaitu dengan diperintahkannya shalat berjamaah sehari-hari, lantaran shalat berjamaah adalah pertemuan sesama umat Islam untuk sama-sama merajut rasa persaudaraan. Ketika tersebut kita sama-sama bertukar fikiran tentang beberapa masalah yang dihadapi, ataupun permasalahan yang menyangkut kebutuhan bangsa.

Harapan serta doa - Satu perkataan popular dalam konteks Idul Fitri yaitu “minal aidzin wal faidzin, minta maaf lahir serta batin”. Minal aidzin bermakna mudah-mudahan kita termasuk juga beberapa orang yang kembali pada fitrah, yaitu “asal kejadian”, atau “kesucian”, atau “agama yang benar”. Sedang al-faidzin bermakna “keberuntungan”. Serta ini mesti dipahami dalam makna harapan serta doa, yakni mudah-mudahan kita beberapa orang yang peroleh ampunan serta ridha Allah Swt hingga kita semuanya memperoleh kesenangan surga-Nya Alaah Swt. Lalu kata maaf datang dari bhs Alquran al-afwu yang bermakna “menghapus”, lantaran yang memaafkan meniadakan beberapa sisa luka di hatinya. Serta tidaklah memaafkan namanya, jika masihlah ada tersisa sisa luka itu didalam hati serta rasa dendam yang membara.

Alquran yang bicara mengenai pemaafan semua dikemukakan tidak ada usaha lebih dahulu dari orang yang bersalah. (QS. Ali Imran : 152 serta 155, Al-Maidah : 95 serta 101). Dalam sebagian ayat ini tak diketemukan satu ayat juga yang menyarankan supaya mohon maaf, namun yang ada yaitu perintah untuk berikan maaf. Allah berfirman :

“Hendaklah mereka berikan maaf serta melapangkan dada. Bukankah anda menginginkan diampuni oleh Allah? ” (QS. an-Nur : 22).

Kesan yang di sampaikan oleh ayat diatas yaitu saran tidak untuk menunggu permintaan maaf dari orang yang bersalah, tetapi sebaiknya berikan maaf sebelumnya disuruh. Mereka yang malas berikan maaf pada intinya malas peroleh pengampunan dari Allah Swt. Oleh karenanya tak ada argumen untuk berkata : “tiada maaf bagimu”, sebab semuanya sudah ditanggung serta dijamin oleh Allah Swt (Quraish Shihab, 2013).

Sebagian ayat Alquran yang mengupas tentang maaf kerap beriringan dengan kata "as-shafht". Serta berjabat tangan dalam bahasa Arab dimaksud dengan "mushafahat" yakni simbol kesediaan seorang untuk buka lembaran baru, serta tak mengingat atau memakai lagi lembaran lama. karena meskipun kekeliruan sudah dihapus terkadang masihlah saja ada kekusutan permasalahan.
Memaafkan kekeliruan yaitu satu karakter terpuji. Bahkan juga Rasulullah sudah mempunyai karakter pemaaf ini dalam menghadapi kawan serta lawan, serta nyatanya memaafkan kekeliruan itu mengakibatkan orang banyak masuk Islam.

Makna dan Hakikat Idul Fitri marilah kita sama-sama berlapang dada, mengulurkan tangan serta sama-sama mengatakan " Minal aidzin wal faidzin ". Mudah-mudahan kita bisa kembali temukan jati diri kita serta mudah-mudahan kita peroleh ampunan, ridha serta nikmatnya surgawi. Aamiin!